Selasa, 04 Oktober 2011

Pemimpin Asia Bergelar “Yang Agung”

Gelar yang Agung diberikan karena pemimpin-pemimpin ini, karena apa yang telah dilakukan pada negerinya melampaui ekspektasi rakyatnya mengenai kesejahteraan. Dibawah kepemimpinannya, negara begitu masyur dan disegani banyak kawan dan lawan. Berikut ini 5 pemimpin Asia bergelar “Yang Agung” di masanya:

1. Kaisar Kangxi (Tiongkok) 
Kaisar Kangxi adalah kaisar Dinasti Qing keempat dan Kaisar Tiongkok kedua dari bangsa Manchu yang memerintah tahun 1661 sampai 1722. Ia dikenal sebagai salah satu kaisar terbaik yang pernah dimiliki Tiongkok karena selama masa pemerintahannya Tiongkok berkembang pesat dalam kebudayaan maupun militer, rakyat pun hidup dalam kedamaian. Pada masa itulah Tiongkok menjadi kekaisaran terbesar di dunia dengan wilayah terluas, populasi terbanyak, pasukannya kuat serta kekayaannya berlimpah. Masa pemerintahannya yang berumur 61 tahun menjadikannya sebagai kaisar yang paling lama bertahta dalam sejarah Tiongkok. Ia mewarisi tahta pada usia 8 tahun, dalam usianya yang masih sangat dini itu, dia didampingi oleh keempat walinya dan neneknya, Ibusuri Xiaozhuang, yang banyak berpengaruh dalam kehidupannya.

2. Asoka yang Agung (Maurya)
Asoka yang Agung adalah penguasa Kekaisaran Maurya dari 273 SM sampai 232 SM. Seorang penganut agama Buddha, Asoka menguasai sebagian besar anak benua India, dari apa yang sekarang disebut Afganistan sampai Bangladesh dan di selatan sampai sejauh Mysore.

Nama “Asoka” berarti ‘tanpa duka’ dalam bahasa Sansekerta. Asoka adalah pemimpin pertama Bharata (India) Kuno, setelah para pemimpin Mahabharata yang termasyhur, yang menyatukan wilayah yang sangat luas ini di bawah kekaisarannya, yang bahkan melampaui batas-batas wilayah kedaulatan negara India dewasa ini.

3. Jellaladin Muhammad Akbár yang Agung (Mogul)
Jellaladin Muhammad Akbár yang Agung ialah Sultan Mogul dari 1556 hingga 1605. Ia dianggap sebagai Sultan Mogul yang paling agung. Akbar dilahirkan di Umarkot, Sind pada 15 Oktober 1542. Ayahandanya Humayun didepak dari tahta dalam beberapa pertempuran dengan Sher Shah Suri, pemerintah Afghan. Setelah 12 tahun di luar negeri, Humayun mendapatkan kembali kekuasaannya tetapi hanya untuk beberapa bulan sebelum meninggalnya.

Akbar menggantikan ayahandanya pada 1556 di bawah pengawasan Bairam Khan, bangsawan Turkoman, yang berusaha menghalangi pesaing kepada tahta, memperketat disiplin tentara, dan membantu memantapkan kesultanan yang baru dibangun kembali itu. Bagaimanapun, Bairam adalah seorang yang mabuk kekuasaan dan kejam. Setelah ketenteraman kembali, Akbar mengambil alih tampuk pemerintahan dengan sebuah pengistiharan pada Maret 1560.

4. Sultan Agung (Mataram)
Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma adalah Sultan ke-tiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara pada saat itu. Nama kecilnya Raden Mas Rangsang yang naik takhta pada tahun 1613 dalam usia 20 tahun menggantikan adiknya(beda ibu), Adipati Martapura, yang hanya menjadi Sultan Mataram selama satu hari.

5. Yeongnak yang Agung (Korea)
Gwanggaeto yang Agung dari Goguryeo  merupakan Raja kesembilan belas Kerajaan Goguryeo, salah satu dari Tiga Kerajaan Korea di bagian paling utara. Nama Anumerta lengkapnya berarti “Raja yang Sangat Agung, Ekaspander wilayah yang luas, dimakamkan di Gukgangsang.”, kadang-kadang disingkat menjadi Hotaewang atau Taewang. Ia memilih Yeongnak sebagai nama eranya, dan disebut Raja Yeongnak yang Agung selama masa pemerintahannya.

Dibawah pimpinan Gwanggaeto, Goguryeo sekali lagi menjadi kekuasaan penting di Asia Timur, menikmati status yang hebat tersebut di abad kedua. Setelah Raja Gwanggaeto wafat pada usianya yang ketiga puluh sembilan pada tahun 413, Goguryeo mengontrol seluruh wilayah antara Amur dan Han Sungai-sungai (dua pertiga dari modern Korea, Manchuria, dan bagian dari propinsi maritim Rusia dan Mongolia Pusat).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar