Selasa, 05 April 2011

Mencari Kehidupan Lain di Luar Bumi

Kosakata kehidupan luar bumi dan makhluk asing "alien" ngetop setelah kemunculan fenomena pola lingkaran anomalik di Dusun Jogomangsar, Desa Jogotirto, Berbah, Sleman, Minggu, 23 Januari 2010. Pola lingkaran anomalik, yang dikenal sebagai crop circle atau crop formation yang sering dijumpai di ladang pertanian mancanegara, di Jogotirto tercetak di lahan persawahan 7 ha milik Daldiri, Djamsiyah, Warsidi, dan Ngadiran.

Sawah itu diapit dua bukit yang merupakan ekspresi permukaan dari percabangan sistem patahan Opak. Pola lingkaran anomalik bergaris tengah 30 m itu berada di koordinat 7 derajat 48’ 44’’ Lintang Selatan 110 derajat 27’ 52’’ Bujur Timur elevasi 96 m dpl dan hanya berjarak 4 km di tenggara Bandara Adisucipto.

Kemunculan pola lingkaran anomalik Jogotirto menghebohkan dan segera dikaitkan dengan kreasi makhluk luar bumi berintelijensia tinggi yang mengendarai benda terbang asing atau unidentified flying objects (UFO). Apalagi kemunculnya hanya berselang tiga minggu setelah fenomena aneh lain di langit Yogyakarta berupa lingkaran cahaya pelangi mengelilingi matahari, yang secara ilmiah diidentifikasi sebagai fenomena optis atmosferik bernama halo. Beragam penafsiran pun menyeruak, dari kabar baik, pesan dari langit, hingga dikaitkan dengan banjir lahar yang menggila dan berkali-kali memutus jalur Yogyakarta-Magelang di kilometer 23.

Pola lingkaran anomalik Jogotirto membuat Indonesia sebagai satu dari 27 negara yang mengalami fenomena sejenis. Pola itu secara global mulai muncul sejak dekade 1970-an dan sejak itu lebih dari 10.000 pola teridentifikasi; 90% berada di Inggris selatan, dekat situs Stonehenge. Realitas itu memantik kalangan ufologis dan supranaturalis untuk mengapungkan pendapat kaitan antara pola lingkaran anomalik dan peradaban makhluk luar bumi. Peradaban yang sama pada masa silam diklaim menginspirasi nenek moyang manusia membangun situs pemujaan.

Supranaturalis bahkan mengklaim banyak pola lingkaran anomalik muncul di lokasi Garis Ley, yakni sejenis node pada garis-garis gaya magnetik bumi tempat banyak situs arkeologi. Lokasi pola lingkaran anomalik Jogotirto bersebelahan dengan situs Candi Abang nan unik. Sebab meski merupakan bagian peninggalan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) era Jawa Tengah, bahan baku situs adalah batu bata yang menjadi ciri khas Medang era Jawa Timur. Dalam konteks regional, lokasi pola itu cukup berdekatan dengan situs percandian besar Prambanan.

Namaun dari sisi ilmu pengetahuan, ternyata tak ada tanda-tanda keterkaitan pola itu dan peradaban makhluk luar bumi. Sebab, banyak kontradiksi antara karakteristik pola lingkaran anomalik dan konsepsi relativitas umum dan fisika energi tinggi. Yang menonjol, antara lain, tak ada jejak peracunan radiasi sinar X dan gamma di lingkungan sekitar pola itu. Tak mengherankan jika astronom sekaliber Carl Sagan dalam buku The Demon-Haunted World: Science as A Candle in the Dark (1997) secara lugas menyimpulkan tak ada hubungan empirik antara peradaban makhluk luar bumi dan pola lingkaran anomalik. Hipotesis anomali cuaca, gangguan magnetik, dan aktivitas fauna diajukan. Namun semua gagal menjelaskan bentuk-bentuk pola yang makin lama kian kompleks. Itu menguatkan dugaan, pola itu kreativitas manusia dengan motif tertentu. Akhirnya, justru dugaan itulah yang terbukti.
Senyawa Organik Meski dikecewakan, pencarian manusia akan kehidupan luar bumi tak pupus sini. Dengan jagat raya yang tersusun oleh miliaran galaksi dengan sebuah galaksi seperti Bima Sakti saja mengandung sedikitnya 100 miliar bintang dan jika dalam setiap 1.000 bintang dalam Bima Sakti ada satu bintang yang memiliki sistem tata surya, ada cukup banyak planet di jagat raya ini. Jadi rasanya mustahil kehidupan hanya terkonsentrasi di bumi.

Memang ada banyak syarat yang harus dipenuhi agar sebuah planet di tata surya apa pun dan galaksi mana pun bisa mendukung kehidupan. Planet itu harus memiliki bintang induk di zona Goldilocks di tepi dalam lengan galaksi. Bila bintang induk terlalu dekat dengan pusat galaksi, akan terlalu banyak radiasi partikel energetik dan sinar gamma yang diterima jutaan lubang hitam penghuni pusat galaksi, sehingga kehidupan tak mungkin eksis akibat instabilitas atom-atom oleh hantaman radiasi. Sebaliknya, kehidupan pun tak akan eksis bila bintang induk berada di tepi galaksi, tempat yang terlalu miskin radiasi sehingga proses evolusi sulit dipantik.

Planet itu pun harus berjarak pas dengan bintang induk karena bila terlalu dekat permukaannya akan terlalu panas. Sebaliknya bila terlalu jauh, permukaannya akan terlalu dingin. Kedua kondisi ekstrem itu tak memungkinkan air memiliki fasa cair; syarat mutlak eksistensi kehidupan berbasis karbon sebagaimana di bumi.

Salah satu tujuan penerbangan antariksa pasca-Perang Dingin adalah mencari jejak dan bentuk kehidupan luar bumi. Dengan keterbatasan teknologi, pencarian itu masih difokuskan di kawasan tata surya kita. Carl Sagan termasuk sosok yang sangat gigih memperjuangkan pencarian kehidupan luar bumi di lingkungan tata surya, antara lain dengan mempromotori misi antariksa Viking ke Mars tahun 1976.

Mendaratnya Viking di Planet Merah, di satu sisi membuyarkan imajinasi manusia kerdil hijau komikal penghuni Mars yang ikonik selama awal penerbangan antariksa. Di sisi lain menyodorkan kemungkinan ada jejak dan deposit air di Mars, salah satu faktor penting bagi kehidupan. Tiga dekade kemudian, lewat misi antariksa Mars Pathfinder, Mars Global Surveyor, Mars Odyssey, dan Mars Exploration Rover, diketahui air berlimpah pernah eksis di Mars masa silam dan kini masih ada sisa dalam bentuk permafrost (es abadi) di bawah permukaan Mars. Misi antariksa ke Mars mendatang kini dirancang untuk mengidentifikasi potensi jejak-jejak kehidupan di sana, yang diasumsikan berbentuk kehidupan bakterial yang sederhana.

Jejak kehidupan tak hanya dijumpai di Mars, namun terendus pula di asteroid. Yang mengejutkan, asteroid mengandung senyawa organik seperti senyawa bergula dan asam amino — dua senyawa kunci bagi kehidupan. Senyawa bergula dikenal sebagai sumber energi tingkat seluler dan salah satu komponen penyusun asam deoksiribonukleat (DNA) dan asam ribonukleat (RNA) yang sangat penting karena merupakan materi genetik tiap sel makhluk hidup. Sementara asam amino bila digabungkan dengan sesamanya akan membentuk protein. Itulah makromolekul yang sangat penting bagi kehidupan.

Meteorit Almahata Sitta, misalnya, yang diproduksi oleh jatuh dan meledaknya asteroid 2008 TC3 di atmosfer bumi, 7 Oktober 2008 pukul 09:45 WIB, mengandung asam amino sederhana yang berlimpah. Keseimbangan antara kadar asam amino D dan L menunjukkan asam-asam amino itu memang berasal dari meteorit itu dan bukan produk kontaminasi bakteri terestrial selama meteorit berada di bumi.

Eksistensi asam amino memang tak lantas membuktikan kehidupan luar bumi ada. Sebab, asam amino pun bisa terbentuk lewat reaksi anorganik Fischer-Tropsch yang melibatkan gas CO, NH3, dan H2 dalam suhu 200-700 derajat C dengan katalis besi dan nikel. Padahal, meteorit Almahata Sitta terpanaskan hingga 1.100 derajat C di atmosfer. Namun keberadaannya yang melimpah di angkasa bisa diibaratkan lautan senyawa organik yang siap dimanfaatkan untuk memunculkan kehidupan, entah kehidupan di bumi atau luar bumi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar